SEJARAH JUDI LEGAL DI INDONESIA

KETIKA JUDI LEGAL DI INDONESIA

Tatabet | Pernahkah kamu berfikir jika judi legal di Indonesia permainan yang menggunakan

taruhan uang asli ini ternyata pernah legal di Indonesia. apakah kamu pemain atau tidak info

seperti ini penting untuk kamu ketahui jika dulunya itu permainan judi legal di indonesia.

walau pada akhirnya permainan yang khas amerika ini sudah diharamkan oleh pemerintahan

indonesia. pernahakah kamu bayangakan jika permainan ini legal lagi di Indonesia pastinya

banyak penggila judi ada dimana-mana. apakah kamu memiliki pengalaman tentang permainan

yang sudah di haramkan ini ?

Perjudian pemerintah ‘ilegal’ mulai terganggu. Didampingi satutogel oleh pengacara Farhat Abbas, seorang

pedagang sayur, Suyud dan Liem Dat Kui, mengajukan tinjauan yudisial untuk melegalkan perjudian.

Suyud adalah dealer yang telah ditangkap dalam kasus perjudian, dengan bukti Rp. 58.000. Dia ditangkap

selama 4 bulan 1 minggu. Suyud terjebak dalam artikel yang dia tuntut.

Meskipun Tuan Liem Dat Kui, warga negara Tiongkok yang terdaftar sebagai warga negara Indonesia, memiliki

alasan lain. Liem Dat Kui menganggap perjudian sebagai bagian dari tradisi.

baca juga : Apa itu billiard pools

Farhat, pengacara meminta Mahkamah Konstitusi untuk meminta klien (pemohon) dengan memeriksa Pasal 303

ayat (1), (2), dan (3), Pasal 303 ayat (1), (2) KUHP dan Pasal 1, Pasal 2, 3 Pasal 4 Pasal 5 UU No. 7 tahun 1974 tentang

Kontrol Perjudian yang dianggap membatasi hak asasi manusia. Peninjauan kembali dilakukan pada hari Rabu, 21 April 2010

dan kemudian dilanjutkan ke Mahkamah Konstitusi.

JUDI LEGAL DI INDONESIA

Padahal, meski kontroversial dan memicu polemik, perjudian legal pernah diterapkan di Indonesia. Di era Provinsi

Jakarta yang dipimpin oleh Ali Sadikin, perjudian untuk mendukung pembangunan telah diratifikasi.

Ali Sadikin, yang menjadi gubernur DKI Jakarta selama 11 tahun (1966-1977) pada waktu itu menyadari bahwa perjudian

dapat dikumpulkan untuk melakukan hal-hal positif. Pria yang akrab dipanggil Bang Ali memutuskan untuk melegalkan

perjudian. Kemudian kasino yang didanai oleh pengusaha Apyang dan Yo Putshong diresmikan.

Hasilnya tidak sepadan. Anggaran pembangunan DKI, yang awalnya hanya Rp. 66 juta, melonjak hingga lebih dari Rp. 89 miliar

dalam sepuluh tahun. Ini berarti bahwa rata-rata tahun sekitar Rp 890 juta, melonjak lebih dari 1.000 persen. Bang Ali juga

membangun sekolah, pusat kesehatan, pasar. Jakarta juga tetap lebih elegan.tidak hanya membangun kasino, Bang Ali juga lotere

bernama Toto dan Nalo (Lotere Nasional).Lotre terus tumbuh hingga era Orde Baru. Misalnya, untuk mengumpulkan dana

guna mengadvokasi PON VII di Surabaya pada tahun 1969, Pemerintah Surabaya mengeluarkan Lotre Totalizator Lotto.

Kemudian datang Toto KONI yang padam pada 1974.

Namun upaya untuk melegalkan judi selalu dipertimbangkan. Pada tahun 1976 Departemen Sosial melakukan studi banding

ke Inggris untuk mengeluarkan prediksi yang dianggap tidak mungkin menyebabkan lebih banyak perjudian karena sifatnya

hanya menebak-nebak. Tetapi dengan mempertimbangkan semua dampaknya, termasuk kerugiannya, ramalan itu hanya dapat

diimplementasikan tujuh tahun kemudian.

Pada Desember 1985, Kupon Kado Sepak Bola Porkas secara resmi diluncurkan, didistribusikan, dan dijual. Pada saat itu tujuan

Porkas adalah untuk mengumpulkan dana publik untuk mendukung pengembangan dan pengembangan prestasi olahraga Indonesia.

Porkas lahir di bawah UU No. 22 tahun 1954 tentang Lotere. Porkas didistribusikan ke tingkat kabupaten dan anak-anak di bawah

usia 17 tahun dilarang menjual, menjual, dan membeli.

Pada akhir 1987, Porkas mengubah namanya menjadi Kupon untuk Hadiah Olahraga (KSOB) dan lebih realistis.

Tetapi dengan alasan bahwa hal itu menyebabkan dampak negatif karena besarnya jumlah dana yang dikumpulkan oleh

masyarakat desa, penjualan kupon 1989 dihentikan.Pada saat yang sama sebuah game baru disebut Prize for Social Benefactor

(SDSB). Tetapi pada tahun 1993, pemerintah mencabut izin untuk menangani SDSB. (hs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *